– Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian mengungkapkan ada fenomena baru dalam dunia terorisme yakni munculnya para teroris lone wolf atau pelaku teror yang beraksi tanpa tergabung dengan jaringan teroris lainnya.
Menurut Tito, teroris lone wolf memelajari cara melakukan teror secara otodidak dari internet kemudian langsung melancarkan aksinya dengan menggunakan bom rakitan atau menggunakan pisau.
Penyerangan menggunakan pisau terhadap polisi terjadi di antaranya terhadap personel polisi di Mapolda Sumatera Utara dan Masjid Falatehan, Jakarta Selatan.
Tito menuturkan, teroris lone wolf tidak bisa melakukan serangan yang merenggut banyak nyawa seperti bom Bali. Namun, kata Tito, keberadaan teroris lone wolf jauh lebih sulit dideteksi dibandingkan dengan teroris yang tergabung dengan jaringan tertentu.
“Kalau yang terstruktur sepanjang kami sudah tahu peta strukturnya, orangnya bisa dilumpuhkan. Tapi kalau yanng lone wolf lebih sulit. Sehingga strategi penanganan berbeda. Kalau struktur, kunci terpentingnya adalah intelijen untuk memonitor dan memetakan jaringan,” ujar Tito, dalam wawancara eksklusif di Kompas TV, Sabtu (8/7/2017).
“Sehingga peran Densus, Satgas Bom Polri menjadi kunci, bisa mencegah atau kalau sudah terjadi bisa menangkap mereka dan memporakporandakan jaringan mereka,’’ lanjut Tito.
Namun langkah seperti itu, kata Tito, tidak bisa diterapkan untuk menangani teroris lone wolf. Menurut Tito, penaganan teroris lone wolf bertumpu pada kekuatan siber negara karena pergerakan teroris lone wolf bisa dideteksi dari komunikasinya di dunia maya.
“Kekuatan siber nasiona, lokal, termasuk di Polri harus kuat untuk melakukan internet patrol di jaringan dunia maya, supaya mampu mendeteksi mana situs radikal, kemudian grup radikal yang diikuti mana, yang ajari buat bom mana, dan selainnya,” ujar Tito.
“Jadi intelijen dunia maya harus kuat, baru operasi lapangan,” lanjut dia.
0 Comments